Header Ads

Aksi 212 Harus Dirawat agar Jadi Modal Kebangkitan dan Terbangunnya ‘Ummatan Wahidah’


Dua aksi bersejarah (Aksi Bela Islam II  atau Aksi 411 dan Aksi Bela Islam III  atau dikenal Aksi 212 bukanlah akhir perjuangan. Justru dua peristiwa ini merupakan pengantar dan langkah awal untuk menemukan identitas keumatan dan cikal-bakal kebangkitan umat Islam.

Hal itu disampaikan pendiri Sirah Community Indonesia (SCI)Asep Sobari,  saat mengisi kajian subuh di Masjid Aqshal Madinah PP Hidayatullah Surabaya.

“Islam tak mengenal petak-petak bangsa. Islam hanya mengenal ummah yang konsepnya melintasi bangsa, bahkan lebih baik dari bangsa,” ujarnya belum lama ini.

Menurutnya, peristiwa Aksi Bela Islam II dan III telah membuktikan gerakan ini tidak hanya diapresiasi dan didukung oleh jutaan masyarakat Indonesia yang tinggal di tanah air, namun juga oleh mereka yang berada di luar negeri seperti Jerman, Mesir, dan lain-lain.

Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa ini bisa jadi langkah awal diterapkannya konsep “ummatun wahidah” (ummat yang satu) yang sudah pernah diterapkan sejak masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Dengan konsep “ummah”, kata Asep, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mampu menyatukan kaum muslimin berbagai suku, etnis dan bangsa. Padahal, para sahabat kala itu memiliki fanatisme kabilah-kabilah Arab dikenal sangat tinggi.

“Pada zaman Rasulullah terdapat banyak suku. Setiap suku rata-rata dihuni 3000-5000 orang. Namun Rasulullah mampu menyatukan mereka menjadi satu dalam konsep ummah”, jelasnya.

Konsep “ummah”, kata peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) ini lebih modern dan lebih hebat daripada konsep bangsa. Bahkan, “ummah” ini lebih tinggi dari institusi negara di seluruh dunia saat ini.

Konsep ummatan wahidah min duuninnas paling cemerlang berkembang di zaman Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) dengan kekuasan dari Spanyol sampai Xinjiang. Konsep ummatan wahidah kala itu  mampu bertahan 100 tahun.

“Meskipun Bani Ummayah runtuh dan pecah, lalu disusul Bani Abbasiyah di Baghdad, tapi keummatannya tetap bertahan. Negaranya runtuh, tapi keummatannya tidak,” paparnya.

Ia membandingkan hebatnya konsep umatan wahidah, di mana ketika itu,  seorang muslim dari Andalusia (Spanyol) yang melakukan safar (perjalanan) ke Baghdad (Iraq), orang tidak perlu ada izin visa apalagi pakai sidik jari.

“Sementara saat ini, Negara semakin maju, kita tidak bisa masuk ke Negara manapun. Bahkan jika mau ke luar negeri masih ditanya punya rekening atau simpanan uang berapa,” ujarnya.

Sementara ketika konsep Islam digunakan, pemuda dari Andalusia  yang melakukan perjalanan ke Baghdad sampai perbatasan Xinjiang boleh.  Bahkan jika mau melakukan pernikahan di perjalanan dengan gadis setempat juga boleh. Termasuk mencari pekerjaan, tanpa permit (izin).

Jika ada yang kehabisan uang/bekal dalam perjalan, sewaktu-waktu mereka bisa mencari baitul maal (semacam lembaga zakat).

“Inilah konsep ummah yang istilahnya dan namanya datang dari Allah dan digunakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”

Menjaga Nyawa Umat Islam

Konsep ummah (ummatan wahidah) juga telah menjadikan umat Islam memiliki izzah (harga diri),  bahkan bisa menjaga nyawa umat Islam, hatta, itu hanya satu orang.

Asep memberikan dua kisah sejarah, ketika konsep ummah diterapkan. Suatu ketika di zaman kekhalifahan ahun 837 M pada zaman Khalifah Al Mu’tasim Ibnu Harun al Rasyid, (795-842 M) atau akrab disapa al-mu’tasim billah ada seorang budak wanita dilecehkan (dibully) orang Romawi. Saat itu sang wanita berteriak, “Di manakah engkau Wahai Al Mu’tasim?”

Akibat pelecehan ini, Khalifah Al Mu’tasim mengerahkan ribuan pasukan  mengepung Kota Ammuriyah,  untuk melindungi kehormatan wanita Islam  dan menjaga kehormatan Islam. Dalam serangan ini,  30.000 pasukan Romawi tewas dan puluhan ribu lain lain dijadikan budak.

Kasus kedua ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar ada seorang muslim yang sholeh ditawan Romawi. Maka, Umar bin Abdul Aziz langsung mengancam Romawi dengan mengatakan, “Aku bersumpah demi Allah, jika engkau tak segera mengirimnya (tawanan Muslim), maka aku akan mengirim pasukan untuk menggempurmu yang barisan awalnya ada di depanmu dan barisan akhirnya ada di tempatku (panjang kira-kira dari Damaskus sampai Romawi).”

“Itulah ummah.  Ketika seseorang mengatakan Asyhadu an laa illaaha illallah, maka setelah itu, semuanya menjadi urusan kaum Muslim.”

Karena itu menurut Asep, dengan konsep ini, maka seharusnya tidak ala lagi kaum Muslim mengalami kesulitan dan terlantar. Sebab jika ada seorang muslim kesulitan, maka saudara, teman dan tetangganya harus menanggung. Jika teman/tetangga tidak mampu, maka komunitasnya akan menanggung. Komunitas tak mampu, maka Baitul mall dan Negara-lah yang harus menanggung, itulah konsep ummatan wahidah atau ummah. Hanya satu orang saja, sampai memerlukan pembelaan negara, ujar Asep.

Karena itu, mengingat pentingnya membangun ummah, maka memaparkan beberapa unsur agar pasca Aksi 411 dan Aksi 212 tidak sekedar menjadi kerumunan, namun terbangunnya sebuah konsep “ummah” yang benar-benar dipraktikkan.

Di antara elemen penting itu ada pada Surat al-Anfal ayat 72, yakni adanya iman, hijrah, jihad harta, jihad jiwa, saling melindungi, saling menolong, dan loyalitas.

“Aksi 411 dan Aksi 212 baru permulaan, kita bisa menyaksisan di sana ada modal untuk kemudian kita semakin diperkuat agar terwujud ummah  yang benar-benar bisa menjadi kenyataan,” pungkasnya.*/Luqman Hakim, penggiat komunitas PENA Jatim
Powered by Blogger.