Skip to main content

Air Mata Ahok Berindikasi "Playing Victim"

Portaldunia.com - Sikap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menangis saat membacakan nota keberatan (eksepsi) di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara (Jakut), berindikasi pura-pura. Atau dari sisi psikologi, terdakwa kasus dugaan penistaan agama tersebut melakukan "playing victim".

"(Playing victim) sinonim dengan ironi viktimisasi. Pelaku memposisikan diri sebagai korban," kata master psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel kepada RMOL, Rabu (14/12).

Menurut Reza, hal itu kerap dilakulan oleh seorang terdakwa. Tujuannya, untuk mengubah locus of control (dimensi kendali) dari internal ke eksternal. Dalam hal ini, pencitraan terhadap terdakwa yang memposisikan sebagai pihak tertindas.

"Tapi wajarlah. Setiap terdakwa selalu mencoba menggeser locus. Dari locus of internal ke locus of external. Artinya, ada penggeseran otak, pengkambinghitaman, pelimpahan tanggung jawab," paparnya.

Seperti diketahui, Ahok tak sanggup membendung air matanya saat membacakan eksepsi di kursi terdakwa, Selasa kemarin (13/12).

Momen tersebut justru ditertawakan oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (Haji Lulung).

Lulung menilai Gubernur DKI nonaktif itu, hanya berpura-pura nangis alias sedang menerapkan strategi "Playing Victim" saat membaca nota pembelaan. "Ha-ha, akting nangis dia," timpal Lulung kepada wartawan, kemarin.

Ketua DPD PPP Jakarta itu menambahkan, tidak ada penyesalan sedikit pun yang ditunjukkan Ahok dalam eksepsi yang dibacakannya.

Seharusnya, lanjut Lulung, calon petahana Gubernur DKI itu cukup menyampaikan permohonan maaf atas hal yang menyeretnya ke meja hijau dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

"Jadi, bukan malah menjelaskan bahwa dia tidak mungkin menodakan agama Islam. Masa Bapaknya dibawa-bawa, Gus Dur dibawa-bawa. Itu mah, akting namanya," demikian Lulung.

Untuk diketahui, istilah "Playing Victim" diketahui sebagai tindakan untuk menegaskan posisi seseorang, khususnya sebagai korban yang selalu dizalimi. Bentuknya, bisa menggunakan isu sebagai warga tertindas, korban pembunuhan, hingga kelompok minoritas.

Kemudian, mengarahkan opini, dengan menyalahkan seseorang atau suatu kelompok sebagai penyebab di balik semua kemalangan si tokoh player victim.

Seakan-akan dia orang baik yang tertindas orang jahat terkait kasus yang menimpanya. Dengan demikian, akan menarik simpati orang lain yang kasihan kepadanya. Biasanya, yang bersangkutan akan menggunakan media sebagai alat penyebar isu ini.

Sumber: Rmol

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…