Skip to main content

"Habis Ahok, Terbitlah HT" oleh Iko Musmulyadi


Musuh-musuh Islam di Indonesia bergerak cepat. Secepat kilat. Siapa lagi kalau bukan 9 naga yang bikin makar. Sadar Ahok sekarat, Ahok akan tamat, meski belum tentu si penista terpenjara. Kini sosok Hari Tanoe (HT) dimunculkan. Konyolnya, dia yang jelas-jelas cina kristen mengetuai Yayasan Peduli Pesantren (YPP). Ini dosa Said Agil Siroj (ASS). ASS bukan saja menyerahkan basis massa NU, tapi juga memberi peluang HT mengobok-obok pesantren lain non-NU.

Lebih parah, bisa saja, dengan didukung gerakan Islam liberal YPP kemudian mendirikan pesantren baru, dengan mazhab yang tak jelas. Menghadirkan makna baru pesantren yang abu-abu. Mengaburkan dan mendisorientasikan institusi Islam dan kepesantrenan. Mendangkalkan aqidah umat.

Pendekatan kultural sedang dimainkan. Cerdik, halus, sangat soft. Dengan bendera YPP, HT mudah dan bebas keluar masuk pesantren, menggandeng ulama dan santri, yang notabene adalah jantung pertahanan umat.

Tak sulit bagi ketua Partai Perindo ini, dengan kekuatan jaringan medianya, membangun citra diri sebagai sosok yang dekat dan peduli dengan entitas Islam. Akan diblowup pemberitaan bahwa
HT baik, berbaik-baik, dan dapat diterima kalangan Islam. Sangat mudah diopinikan bos MNCTV itu sebagai antitesa Ahok.

Umat harus disadarkan. Tak ada makan siang gratis dalam politik. HT seolah peduli Islam, tiba-tiba menyasar kantong-kantong Islam, memberikan bantuan sekian milyar ke pesantren pasti ada maksud. Ahok proxy, HT juga proxy. Cuma beda cara dan gaya. Ahok kasar, frontal, brutal, dan terang-terangan menantang Islam. HT sebaliknya. Tapi keduanya sama-sama dibawah kendali 9 naga taipan.

Untungnya umat sudah terkonsolidasi. Demo bela Islam yang berpuncak pada aksi 212 sedemikian berarti. Gerakan 212 tak kan berhenti. Getarannya kian terasa merembet kemana-mana. Wacana pendirian Bank 212, supermarket 212, pabrik roti 212, hingga harapan bersatunya partai-partai Islam, terus disuarakan.

HT jangan dibiarkan, harus dibendung. Umat Islam Sumatera Barat sudah memulainya. Sangat tepat antisipasi yang dilakukan pesantren diniyah puteri Padang Panjang yang menginisiasi persatuan pesantren se-Sumbar untuk tak terlibat dan tak terkait dengan apapun dengan YPP.

Alhamdulillah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) secara tegas juga sudah menolak bergabung dengan YPP, walaupun sempat didekati secara khusus HT.

Kekuatan parlemen juga harus bergerak. DPR harus didorong untuk merevisi UU tentang Yayasan, dengan memasukan klausul bahwa yayasan yang berorientasi atau berbasis masa agama tertentu maka pengurusnya tidak boleh beragama lain. Sehingga apa yang dilakukan HT menjadi delik hukum. Meskipun mungkin proses revisi regulasi ini agak panjang, tapi setidaknya akan menjadi isu besar umat Islam untuk waspada terhadap HT dan tak berdekat-dekat dengan YPP.

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…