Skip to main content

Ahok Fokus Pembangunan Benda Mati, Tapi Tidak Peduli SDM


Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengkritik model pembangunan yang diterapkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. Menurutnya, Ahok-Djarot selama ini lebih fokus membangun infrastruktur atau benda mati. 

Anies pun mempertanyakan program Ahok-Djarot yang baru mewacanakan pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) saat masa kampanye Pilkada 2017.

"Kritik pada Pak Basuki adalah kenapa baru sekarang bicara manusia? Bukankah seharusnya dari awal?" ujar Anies dalam acara debat kandidat Pilkada DKI yang diselenggarakan Kompas TV di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (15/12) malam.

Fokus pada pembangunan infrastruktur, menurut Anies, membuat pembangunan manusia di Jakarta terabaikan. Selain itu, Anies juga menilai pembangunan Jakarta selama masa kepemimpinan Ahok-Djarot tidak memberikan keadilan dari berbagai aspek.

Indikasinya, Anies menyebut kesenjangan dan ketimpangan ekonomi semakin melebar. Ia menyatakan tak akan mengikuti model pembangunan tersebut jika dirinya bersama Sandiaga Uno terpilih sebagai pemimpin Jakarta.

Anies berjanji akan mendahulukan pembangunan manusia. Sebab menurutnya, kemajuan kota akan percuma tanpa diikuti kebahagiaan warganya.

"Di sini bedanya. Kami dari awal, kualitas kota ini akan ditentukan kualitas manusia," ujarnya.

Pembangunan manusia akan terfokus pada upaya menciptakan keadilan ekonomi bagi warga Jakarta. Sementara itu, Sandiaga menambahkan, pembangunan di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir tidak berpengaruh pada penciptaan lapangan pekerjaan serta harga-harga kebutuhan pokok.

Anies dan Sandi sendiri memang memiliki program untuk mengurangi pengangguran dengan penciptaan 200 ribu wirausaha baru. Selain itu, Anies-Sandi juga berjanji memangkas rantai distribusi yang menyebabkan harga kebutuhan pokok menjadi mahal.

Sumber: cnnindonesia

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…