Skip to main content

Advokat Muda Ahok Laporkan Akun Medsos Andi Arief atas Tuduhan Penyebaran SARA

www.Postmetro.co - Komunitas Advokat Muda Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat (Kotak BADJA) melaporkan Andi Arief, ke Polda Metro Jaya. Andi dilaporkan karena cuitannya yang bernuansa SARA. 

"Hari ini kami melaporkan satu akun diduga adalah punya Andi Arief," ujar Ketua Kotak BADJA, Muanas Alaidid kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/12/2016).

Muanas menyebut akun Twitter yang dilaporkan adalah @AndiArief_AA, yang selama ini dikenal sebagai akun resmi Andi Arief. Lewat akun itu, Andi berkicau soal Ahok. Cuitannya itu dinilai Muanas dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Muanas menyebut cuitan Andi Arief yang berpotensi menyulut kebencian bernuansa etnis. Cuitan itu memuat seruan kepada Ahok agar jangan merusak kedamaian.

Cuitan Andi Arief itu disesalkan oleh Muanas. Apalagi, Andi Arief termasuk salah satu tokoh yang pernah bekerja untuk pemerintah. Menurut Muanas, hal itu tidak pantas dikemukakan oleh Andi Arief.

"Yang kita sesalkan adalah beliau adalah aktivis kemanusiaan, kan gitu, pernah menjadi korban satu rezim, kan seperti itu, dia tahu bahwa dia juga pernah menjadi Jubir salah satu Presiden yang kita kenal santun tetapi dia mencuit satu kata-kata yang bernada menimbulkan kebencian dan permusuhan, nah ini yang kami kira sangat tidak pantas disampaikan oleh Andi Arief," paparnya. 

Menurutnya, cuitan Andi Arief ini bernada provokatif. Cuitannya itu dinilai dapat menggiring opini publik untuk menyalahkan Ahok jika terjadi kerusuhan di kemudian hari, seperti yang dicuitkannya itu.

"Seolah-olah menggiring opini publik bahwa ketika nanti terjadi kekerasan, ketika nanti terjadi pembakaran Tionghoa, pemerkosaan, sangat berpotensi Ahok akan menjadi orang yang dikambing hitamkan," sambungnya.

Andi mencuit tulisannya itu pada tanggal 2 Desember lalu, bersamaan dengan aksi 'Bela Islam III' dan sudah dihapus. Meski telah dihapus, namun cuitannya itu telah tersebar di media sosial dan tidak menghilangkan perbuatannya melawan hukum.

"Kami mendapat informasi terakhir Tweet ini sudah dihapus, tapi perbuatan nya itu saya kira menurut UU dan menurut hukum kita tidak menghilangkan perbuatan melawan hukumnya, itu tetap terjadi dan dia harus bertanggung jawab secara hukum," terang dia.

Muanas yakin bahwa akun bernama Gens Una Sumus itu adalah milik Andi Arief. "Dari beberapa saksi kita, dapati keterangan bahwa sudah lama berhubungan dengan akun tersebut, sering terjadi komunikasi dan sering berdikusi dan selama ini memang sudah bisa dipastikan bahwa akun ini adalah akun milik Andi Arief," ungkap Muanas.

"Tetapi kami tidak mau mengambil alih tugus penyelidikan, biar nanti proses-proses biar pihak kepolisian yang nanti mendalami bahwa Tweet ini hoax atau tidak," sambungnya.

Bahkan menurutnya lagi, pihaknya sudah memperingatkan kepada Andi Arief. Namun cuitan Andi yang dipermasalahkan itu telah dihapus.

"Tapi ini sudah masuk ruang publik, sudah dibaca orang, sudah banyak ditanggapi, jadi nanti kalau secara hukum jelas tidak menghilangkan tindakan melawan hukumnya, biarlah nanti polisi yang akan mendalami apakah ada tindak pidananya atau tidak," lanjut dia.

Dalam laporan bernomor LP/ 6099/ XII/ 2016/PMJ/ Dit Reskrimsus, Andi dilaporkan oleh salah satu tim Kotak BADJA, Edy Maryatama Lubis atas dugaan menyebarkan kebencian dan sara melalui media elektronik sesuai dengan Pasal 45 ayat 2 Jo pasal 28 ayat 2 UU RI No 11 tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Muanas berharap, polisi segera menindaklanjuti laporan tersebut dan memanggil Andi Arief. "Nah itu harapan kita, semoga dengan laporan ini, yang bersangkutan bisa dipanggil dan saya kira Polri untuk bisa melakukan penindakan terhadap mereka yang diduga melakukan penyebar kebencian bisa ditindak lanjuti," bebernya.

Ia kemudian menyinggung pelaporannya terhadap Buni Yani terkait kasus yang sama. "Karena kita tidak lupa juga melaporkan 
Buni Yani hate speech juga, menyebarkan kebencian sehingga menyebabkan keresahan di masyarakat--belakangan ini--itu juga dimulai dari sosial media," tandasnya.

Sementara ini, detikcom belum berhasil menghubungi Andi Arief melalui nomor telepon selularnya untuk mengkonfirmasi perihal cuitan di Twitter itu.(dtk)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…