Skip to main content

Ada Kerjasama Internasional di Balik ‘Festival Kematian’ di Aleppo


Rangkaian aksi pembantaian nyawa manusia di Aleppo lebih menyerupai festivel panjang perhelatan kematian yang dirayakan setiap hari oleh jet-jet tempur Rusia, rezim Assad, dan milisi-milisi Syiah pro-Iran yang datang dari berbagai tempat di dunia untuk bergabung dalam pesta kematian di Suriah. Tiada hari yang dilalui kecuali di sana ada puluhan nyawa terbunuh, dan tak terhitung lagi jumlah wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia yang menderita luka-luka.

Meski demikian, pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi satu-satunya hal baru bahwa apa yang sedang terjadi di Suriah saat ini merupakan awal malapetaka, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga malapetaka bagi pohon-pohon dan bebatuan.

Semua malapetaka itu terjadi atas restu dan dukungan Amerika. Aleppo merupakan salah satu peradaban tertua dan paling terkenal di dunia. Kota ini, yang dibangun sejak puluhan abad yang lalu, baru-baru ini mengalami penghancuran oleh tangan-tangan jahat yang kuat dari musuh umat manusia, dan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rakyat Aleppo, yang selama ini begitu bangga dengan kota dan sejarahnya, sekarang harus menjadi korban kematian, menderita luka-luka, atau menjadi pengungsi. Mereka yang harus bertanggung jawab atas kejahatan terbesar terhadap Aleppo dan penduduknya, atau Aleppo secara keseluruhan, tentu saja bukan hanya mereka yang secara langsung ikut menghancurkan kota dan membantai penduduknya, tetapi semua pihak yang terlibat dalam skenario besar kejahatan dan yang masih berdiam diri ketika mengetahui kejahatan itu berlangsung.

Di dunia ini, tidak ada satu kota pun sejak Perang Dunia II yang mengalami bombardemen, teror, dan penghancuran besar-besaran semasif yang terjadi di Aleppo. Kejahatan kemanusiaan ini mengkonfirmasi bahwa apa yang sekarang terjadi di Aleppo merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap aturan dan hukum perang. Perang dilakukan dengan tanpa batas dan tanpa aturan.

Berbagai peristiwa yang berujung pada kematian di Suriah bukan hanya bertujuan untuk melindungi rezim Assad penganut sekte Syiah Nushairiyah Alawiyah, yang telah berkuasa selama 45 tahun berkat dukungan dan perlindungan sekutu mereka dari Barat dan Timur. Apa yang kita lihat saat ini adalah sebuah rencana peta baru kekuatan-kekuatan besar dunia yang bertujuan untuk membagi-bagi Suriah, bukan (hanya) menjadi dua atau tiga buah negara, tetapi (bahkan) menjadi negara-negara kecil sektarian yang berpotensi akan terus menghidupkan api peperangan selama berabad-abad.

Apa yang telah dilakukan pemerintahan Obama adalah, bukan dengan melibatkan diri secara langsung ke dalam aksi kejahatan tersebut di lapangan, tetapi dengan cara ikut “bermain” menentukan arah kebijakan. Pada mulanya AS menyerukan supaya Assad harus lengser dari kekuasaan; namun selanjutnya, AS berbalik posisi bahwa Assad harus tetap dipertahankan.

Alasannya, Assad masih menjadi bagian penting dalam pemerintahan transisi mendatang, atau dalam keputusan apapun yang akan dibuat nantinya. Demikian juga Uni Eropa yang baru-baru ini mengumumkan akan mendukung Assad yang katanya sedang mengupayakan sebuah solusi untuk masa depan. Maka kita gagal memahami resolusi macam apa yang akan diambil di atas tumpukan tubuh-tubuh manusia yang terkoyak dan genangan darah anak-anak!

“Komunitas internasional”  yang dipimpin oleh utusan khusus PBB, de Mistura, telah berhasil mengalihkan isu Suriah dari perang sektarian menjadi sebuah krisis kecil yang hanya fokus pada 300 pejuang yang berbaiat kepada Fath al-Syam yang saat ini berbasis di Aleppo. Pekan lalu ketika berada di Damaskus dalam rangka mengunjungi Assad, de Mistura sendiri telah mengeluarkan pernyataan yang sulit bagi siapapun untuk memahaminya. Satu-satunya hal yang bisa dipahami adalah, bahwa de Mistura mendukung Assad dan melihat kehancuran Aleppo di tangan rezim tidak lebih dari sebuah fetakompli yang hanya bisa dicarikan jalan keluar dengan berlalunya waktu.

Oleh karena itu, kita menyaksikan ada kerjasama internasional di balik pesta kematian di Aleppo. Festival kematian kini sedang terjadi dengan rakyat Suriah sebagai korbannya. Rusia, Iran, dan rezim Assad, termasuk milisi-milisi Syiah yang berasal dari luar Suriah, semuanya terlibat dalam pesta pembunuhan itu. Sementara, komunitas internasional, Amerika Serikat dan Uni Eropa, mereka memfasilitasi jalan kematian tersebut, sehingga pada akhirnya Assad akan menjadi bagian dari resolusi di masa depan. Yang tak kalah menyedihkan adalah, mayoritas negara-negara Arab sangat lamban mengambil tindakan, sambil menunggu giliran mereka untuk juga merayakan kematian tersebut.

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…