Skip to main content

212 Adalah Mukjizat Besar Persatuan Umat Islam Melawan Ke Zhaliman


Setiap mata takjub, setiap jiwa terkejut, setia hati terharu, menyaksikan fenomena besar umat Islam dalam Aksi Supe Damai Bela Islam 212.

Pekikan takbir menggemakan semesta, semangat jihad membakar bumi Indonesia, seruan keadilan menggetarkan jiwa, dan umat Islam tampil penuh wibawa.

Umat Islam Indonesia pada aksi 212 kemarin telah berhasil menciptakan mukjizat besar dalam sejarah yaitu persatuan umat Islam melawan kedzoliman.

Kita mungkin tidak akan mampu melihat kekuatan rahasia yang mampu menggerakkan jiwa-jiwa umat Islam untuk memutihkan Jakarta, sebagaimana logika kita tidak akan mampu menafsirkan apa sebenarnya yang membuat hati umat Islam melebur ke dalam kesamaan tekad, kesatuan langkah dalam melawan kedzoliman. Tapi kita semua meyakini bahwa ada campur tangan langit dalam aksi ini, Allah telah mletakkan kekuatan magnetik di aksi 212 yang menjadikan umat Islam di seantero Indonesia bahkan dunia tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta.

Akan tetapi setidaknya kita bisa menyikapi kekuatan dan keagungan aksi 212 ini dalam persepektif filsafat sejarah, agar kita mampu menguatkan keyakinan kitadi atas dengan landasan ilmiah sehingga kita mampu mengetahui rahasia kekuatan setiap bangsa dalam menciptakan sejarah dan membangun peradabannya.

Sejarah menjelaskan kepada kita bahwa setiap bangsa memiliki suatu nilai dan simbol yang disucikan yang menjadi pembentuk dan pengikat spirit mereka dalam membangun peradaban. Mereka bersatu di bawah naungan nilai dan simbol itu, kemudian berkumpul bersama untuk memperbaharui dan menguatkan tekad mereka.

Masyarakat China modern mereka disatukan dengan idiologi marksis-komunis kemudian disuatu hari yang disucikan, di ‘lapangan merah’ mereka berkumpul bersama.

Umat Kristen mereka diikat oleh idiologi masehi dan kemudian di hari kelahiran Al Masih merekapun berkumpul bersama.


Umat Islam pun demikian, ia memiliki idiologi yang disucikan, kitab yang disakralkan, hari yang diagungkan, yang mengikat dan menyatukan mereka. Dan di hari raya Fitri dan Haji umat Islam pun berkumpul bersama.
Mereka semua berkumpul untuk apa ?? Mereka berkumpul untuk menyegarkan spirit kebangsaan dan keagamaan mereka, merka juga berkumpul untuk menguatkan persatuan mereka.

Maka saat-saat berkumpul itulah saat-saat yang berharga dalam sejarah perjalanan manusia, saat-saat puncak kekuatan sebuah bangsa dan peradaban, dalam menciptakan sejarah, dalam mengemban risalah peradaban, dalam melawan semua tantangan yang didatangkan manusia sendiri ataupun alam.

Maka sangat tepat apabila seorang filosof peradaban Malik Bin Nabi dalam bukunya Perang Pemikiran di Negeri Terjajah mengatakan
“sesungguhnya detik-detik sejarah yang paling besar senantiasa terjadi ketika terciptanya kesatuan secara menyeluruh sebuah bangsa dalam melawan (tantangan) alam ataupun manusia.”

Kata-kata di atas adalah pemikiran filosofis yang sangat dalam dan penuh makna apabila kita kaitkan dengan aksi 212.

Aksi 212 adalah momen yang sangat mahal dalam sejarah Islam Indonesia, dimana umat Islam bersatu dari berbagai penjuru, lintas ormas, lintas parpol, lintas suku, berkumpul di jantung bumi Indonesia, menyuarakan hak-hak mereka, membela agama mereka, dan menumpas kedzoliman yang menghinakan mereka.

Aksi 212 adalah detik-detik yang sangat berharga dalam sejarah Islam Indonesia, dimana umat Islam menunjukkan kekuatannya, menyadari akan kebesarannya, memahami akan kemulyaannya, merasakan akan kewibawaannya.

Maka Aksi 212 memiliki kekuatan yang sulit tertandingi, setidaknya dapat menggentarkan kaum sekularis dan komunis di negeri kita, meski dihadapan kita mereka tampil seperti biasa menyembunyikan kecemasannya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk terus menjaga dan memelihara persatuan kita. Amin.

http://www.penapembaharu.com/2016/12/03/aksi-212-detik-detik-berharga-dalam-sejarah/

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…