Diare Akibat Alergi Susu

Diare sering disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Namun, diare juga dapat merupakan reaksi alergi tubuh terhadap bahan makanan atau minuman tertentu, misalnya susu sapi. Diare akibat alergi susu sering terjadi pada bayi dan anak-anak, meski ada pula beberapa kasus terjadi pada orang dewasa.

Ada dua jenis reaksi alergi susu. Pertama karena imaturitas usus, atau ketidaksiapan sistem pencernaan bayi menerima bahan makanan selain ASI. Biasanya terjadi pada bayi yang belum pernah diberi susu sapi sebelumnya. Reaksi alergi susu karena imaturitas usus (hipersensitif) terjadi apabila bayi mengonsumsi susu dalam jumlah besar, namun jika dilakukan tes alergi, hasilnya negatif. Reaksi hipersensitif akan berkurang seiring tumbuhnya bayi dan semakin matangnya sistem pencernaan si kecil. Sementara, alergi susu juga bisa terjadi sebagai reaksi tubuh terhadap protein dalam susu. Sistem imunitas tubuh mengenali protein sebagai benda asing (bahkan saat dikonsumsi dalam jumlah kecil sekalipun) dan mengerahkan reaksi untuk memeranginya. Berbeda dengan reaksi hipersensitif, sebagian orang yang memiliki alergi susu di masa kecil akan mengalami reaksi yang sama hingga ia dewasa. Ketika dilakukan tes alergi, hasilnya positif

Diare akibat alergi susu muncul dalam waktu 20-45 menit setelah anak meminum susu atau mengonsumi makanan atau minuman yang mengandung susu. Biasanya diikuti pula dengan reaksi alergi lainnya seperti munculnya ruam kulit/gatal-gatal, mata berair, serta sesak napas.

Bayi yang terbukti alergi terhadap susu sapi umumnya juga alergi terhadap susu kambing. Maka, sebaiknya bayi diberikan susu hypoallergenic atau bisa mencoba susu kedelai. Walaupun, faktanya ASI adalah yang terbaik dan tak menimbulkan reaksi alergi apapun.

Diare akibat alergi susu dapat dihindarkan dengan cara 3A: “avoidance, avoidance, avoidance”. Artinya, sebisa mungkin penderita menghindari makanan atau minuman yang mengandung susu atau olahannya. Sebab, memang tak ada obat antialergi. Medikasi yang ada hanyalah bersifat antihistamin, yang bekerja dengan menekan reaksi alergi pada tubuh. Orang yang pernah mengalami reaksi anafilaksis (reaksi alergi berat seperti pembengkakan bagian tubuh dan sesak napas) sebaiknya betul-betul menghindari pencetus alergi dan berjaga-jaga dengan antihistamin di sakunya.

Tags: ,

Leave a Reply