Hukum Bunga Bank dalam Islam

8 Pendapat Hukum Bunga Bank dalam Islam

Bunga bank masih pro dan kontra. Ada pihak yang menyatakan dengan tegas bahwa bunga bank diharamkan karena prakteknya hampir sama dengan riba yaitu mendapatkan kelebihan harta dari akad yang terjadi.
Namun, pihak lainnya menyatakan bahwa bunga bank halal sebab kelebihan yang diberikan oleh satu pihak sudah disepakati sebelumnya dengan proporsi yang masuk akal.

Pro dan kontranya mengenai hukum bunga bank dalam Islam akan dikaji dari beberapa pendapat ini:

  1. Fatwa Kelompok A1 Buhusul Islamiyah Kairo dalam Muktamar II, Muharram 1385 H/Mei menyatakan bahwa bunga bank dianggap haram karena dalam setiap peminjaman atau simpanan ada keuntungan yang diperoleh baik sedikit ataupun banyak dan dosanya haram.Namun, praktek bank yang tidak bertujuan mencari bunga seperti cek, giro, wesel, dan sebagainya diperbolehkan dan tidak termasuk riba. Ini artinya dalam kelompok ini yang dicermati adalah keuntungan yang diperoleh dari pinjaman atau simpanan yang dilakukan oleh salah satu pihak.
  2. Keputusan Muktamar Bank Islam Kuwait menyatakan bahwa menyimpan uang dengan maksud mendapatkan keuntungan (riba) bersifat haram seperti halnya meminjam uang dengan bunga atau beban merupakan usaha yang diharamkan.
    ==> Namun, sangat diperbolehkan menyimpan uang di bank dan mengadakan persetujuan dengannya, dengan perhitungan keuntungan atas suatu hasil usaha.
  3. Lokakarya Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cisarua menyatakan bahwa bank memiliki kedudukan dan peran penting dalam perekonomian rakyat serta bisa menunjang pembangunan nasional. Maka, MUI memperbolehkan perbankan sejauh yang benarĀ­-benar dibutuhkan atau bersifat darurat.
    Artinya, sepanjang pinjaman itu memberikan manfaat maka walaupun tetap memberikan keuntungan bagi pihak lain, hukumnya tetap halal.
  4. Muktamar Majelis Tarjih Muhammadiyah memutuskan bahwa riba adalah haram dan bank dengan sistem riba tentu haram. Namun, jika bank tanpa menggunakan sistem riba, maka sifatnya halal. A
    dapun bunga diberikan bank-bank milik negara termasuk perkara musyatabihat, yakni samar atau tidak jelas halal dan haramnya.
  5. Prof Dr. H. Peunoh Daly menyatakan bahwa menerima kelebihan uang simpanan deposito hukumnya halal atau boleh, karena uang itu diputar dan keuntungannya dibagi-bagikan kepada deposan.
  6. F. H. Syafrudin Prawira Negara, S.H menyatakan jika meminjam ke bank untuk tujuan produktif, tidak haram hukumnya tapi harus atau boleh, namun jika pinjaman untuk untuk konsumtif hukumnya haram.
  7. K.H. Abdurrahman Wahid menyatakan bunga bank tidak sama dengan riba sebab memiliki nilai produktif dan lebih merupakan pembagian keuntungan ketimbang eksploitasi. Sepanjang tidak merugikan maka hukumnya halal.
  8. K.H. Abdul Latief Mukhtar, M.A menyatakan bunga bank dan riba tidak ada perbedaan yang hakiki. Bunga bank haram.

Dan, masih banyak pendapat lain mengenai bunga bank dalam Islam. Bagaimana dengan pendapat Anda?