Ginkgo Biloba Atasi Otak “Tulalit” & Kerut Di Kulit

Pohon ginkgo konon sudah ada sejak 200 juta tahun yang lalu! Yaitu pada suatu zaman prasejarah yang disebut era Mesozoikum, dimana generasi tumbuhan dan binatang purba hidup. Tanaman ini tumbuh di daerah yang kini disebut Pegunungan Chekiang (Cina bagian timur) dan Sechuan (Cina bagian barat). Uniknya, ia masih ada hingga sekarang. Padahal, semua tumbuhan dan hewan dinosaurus kawan seangkatannya telah punah dan menjadi fosil batu!.

Mengapa ginkgo bisa bertahan?

Teka-teki ini dijawab para ahli dengan mengemukakan “teori distribusi”. Katanya, tanaman itu bisa bertahan lantaran mereka tumbuh di mana saja, di dataran tinggi maupun dataran rendah. Ketika tumbuhan ginkgo yang hidup di bawah ludes dihantam pergantian masa, yang di atas sana masih berjaya. Soalnya, didataran tinggi hampir tidak ada polusi, sehingga tumbuhan aman-aman saja hidupnya. Pada abad XV pendeta Tao memungut dan menanamnya di halaman kuil, sebagai pohon peneduh sekaligus bonsai hiasan. Ketika menyebarkan ajaran kebajikan ke Jepang, mereka mrmbawanya serta dan menanamnya di kuil sana. Sebagian bahkan dijadikan bonsai oleh pendeta Tao asal Jepang. Di Cina tanaman ini disebut yin kuo, artinya buah perak. Namun di Jepang penduduk setempat melafalkannya gin go. Berkat nenek moyangnya yang ditanam di kuil inilah tanaman ini lestari sampai kini.

Dikira asli Jepang

Sosok ginkgo sungguh anggun. Apalagi pada musim gugur, daun-daunnya yang hijau pucat berubah warna menjadi kuning merana. Batang dan cabang-cabang tanaman sejangkung 25 m ini tampak bagai urat besar ditengah tajuknya yang gagah. Daunnya kecil-kecil, setiap helai terbelah dua melebar hingga menyerupai bentuk kipas. Selintas daunnya itu mirip daun tanaman suflir. Tanaman ini berumah dua, jantan dan betina hidup di rumah (pohon) berbeda. Tanaman betina, sayangnnya, menebarkan aroma tak sedap, karena buahnya berbau busuk! Karena itu, yang dipelihara biasanya yang jantan. Buahnya yang hampir sebesar buah pala itu bijinya bukan main nikmatnya, gurih agak manis seperti kacang mete goreng. Penduduk Tiongkok kuno sudah biasa menyantapnya setelah “dibakar” mungkin disangrai.

Adalah Meneer Engelbert Kaempfer yang memperkenalkan ginkgo ke Eropa lewat tulisannya, setelah dokter Belanda ini berkunjung ke Tokyo pada tahun 1690. Lantas pada tahun 1730 ia memboyong bibitnya ke Utrecht, Belanda. Sebagian bibit itu diteruskannya ke Kebun Raya Kew Gardens, Inggris, untuk ditanam di sana. Mungkin dari situ pula, pada awal abad XVIII bibitnya diseberangkan ke Amerika. Makanya, di sana dan di Kanada pun didapati tanaman ginkgo. Jadi, ginkgo Amerika itu sama saja dengan yang di Cina maupun Jepang.

Bentuk daunnya mungil da indah, membuat orang Barat mengaguminya sebagai Maidenhair tree, “pohon suflir”. Maidenhair adalah julukan bagi salah satu jenis suflir Adiantum spp., yang daunnya mirp daun ginkgo. Karean itu, ia dijuluki adiantifolia, berdaun mirip suflir – adiantum artinya suflir, folia berarti daun. Dari situlah lalu disusun nama botaninya, Salisburia Adiantifolia. Gara-gara si pemberi nama salah mengira tanaman ini hanya ada di wilayah Salisbury, Amerika. Pakar tata nama botani Linnaeus protes, nam ailmiah yang paling cocok untuknya Ginkgo biloba, mencerminkan daerah asalnya, Jepang. Padahal, andai Linnaeus tahu bahwa tanaman ini aslinya dari Cina, mungkin saja ia akan menamakannya Yinkuo biloba.

Karena kurang oksigen

Pemanfaatan ginkgo, khususnya daun dan buahnya, sebagai bahan obat sudah dilakukan penduduk Cina Kuno pada abad 5000 tahun lampau. Mereka menggunakannaya untuk mengobati penyakit-penyakit yang sekarang disebut sakit jantung koroner, asma, bronkhitis. Sayangnya, tak disebutkan bagaimana cara mereka menggunakannya. Kini daun ginkgo diekstraksi, diambil sarinya. Ditawarkan sebagai obat antilupa, dalam rupa ekstrak serbuk dan ekstrak cair. Disebutkan, zat berkhasiatnya dapat membuat plong pikiran buntu, sekaligus memuluskan ingatan yang sering putus-sambung. Khasiat zat aktifnya itu bekerja dengan mempengaruhi aliran darah dan sel-sel saraf.

Sel-sel otak itu memerlukan pasokan energi (glukosa) dan “udara” (oksigen), agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Kedua kebutuhan pokok tersebut diantarkan dengan menumpang pada aliran darah. Cuma, ada kalanya pasokan ini jumlahnya kurang memadai, terhalang penyempitan pipa pembuluh darah alias aterosklerosis. Gara-gara dinding pembuluh darah bagian dalam dipenuhi tonjolan kerak lemak/gula darah. Terbatasnya pasokan sumber energi dan oksigen membuat otak ngambek menjalankan fungsinya. Pada saat inilah “telkom” otak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu memutuskan kabel-kabel saraf. Akibatnya, otak menjadi “tulalit”, suka sulit diajak mikir. Bisa-bisa nggak nyambung aja. Omongan yang tadinya sudah ada di ujung lidah mendadak sirna dari kepala. Kalau parah, seseorang malah tak tahu lagi ia sedang berada di mana. Gejala ini disebut disorientasi.

Otak baru akan “buka loket” lagi setelah ia mendapatkan pasokan energi dan oksigen yang mencukkupi. Yang gawat kalau pasokannya itu tidak pulih seperti sediakla, tapi malah terhenti sama sekali, biarpun cuma sesaat. Kalau ini sampai terjadi, otak bisa “mati”. Kita menyebutnya stroke. Lebih gawat lagi kalau hal semacam ini terjadi pada jantung. Bisanya disebut serangan jantung koroner. Jantung bisa “tutup loket” untuk selama-lamanya! Penyempitan pembuluh darah dikenal sebagai akibat tingginya kadar lemak/gula dalam darah. Pendapat ini benar, tapi tidak sepenuhnya tepat. Soalnya, hubungan tidak langsung berupa sebab-akibat. Masih ada pihak ketiga, yakni PAF ( platelet activatinf factor). Senyawa ini sebenarnya dibentuk oleh platelet (butir darah merah) untuk menjadiakn darah lebih pekat, agar jika terjadi pendarahan tidak berlama-lama mengucur. Cuma, kerja PAF justru mencelakakan jika konsentrasi lemak/gula darah melebihi normal. Kepekatan itu malah memudahkan lemak darah menempel pada dinding pembuluh, yang membuat pembuluh darah menyempit. Dengan minum ekstrak ginkgo, pelekatan platelet pada dinding pembuluh darah bisa dicegah. Dengan begitu, elastisitas pembuluh bisa tetap terjaga. Selain itu, ginkgolida juga dikabarkan memiliki kemampuan menggempur kerak lemak tadi.

Usir sakit kepala dan kerut tua

Dalam waktu bersamaan, zat ginkgolida memacu produksi ATP (adenosine trifosfat) dalam tubuh. ATP inilah yang bertugas menggenjot metabolisme glukosa, sehingga otak bisa mendapatkan stok sumber energi lebih banyak. Sambil tetap menyelesaikan tugas utamanya, ATP melakukan pekerjaan sampingan dengan meningkatkan aktivitas elektrikal pada kabel saraf otak. Bukan main giatnya zat aktif dalam ekstrak ginkgo ini. Sambil bekerja menyapu kerak lemak yang menghalangi pengiriman energi, ia berjuang meningkatkan produksi sumber energi itu sendiri. Tak heran jika keampuhannya dalam menguggah kembali ketangkasan memori dan mental diakui banyak ahli. Sampai ada yang menyebutnya obat alami antipikun! Salah satu buktinya, keberhasilan ginkgo mempertajam kembali pikiran dan ingatan para lansia.

Kalau soal mereparasi keluhan di bagian kepala, bukan Cuma otak tumpul yang bisa dibereskan ginkgo. Pun beragam sakit kepala dapat diatasinya, mulai dari sakit kepala biasa, pusing separuh (migren), hingga “pusing jungkir balik (vertigo). Jasanya memperlancar aliran darah dibagian kepala ternyata membawa dampak pada perbaikan kualitas pendengaran termasuk mengatasi kuping yang sering berdenging serta penglihatan.

Zat aktif dalam ekstrak ginkgo bekerja secara sistematik mampu merambah ke seluruh ujung saraf dalam tubuh. Kelebihan ini sering dimanfaatkan para ahli kesehatan kulit untuk mereparasi kemunduran kualitas kulit tubuh. Baik untuk menghilangkan munculnya kerutan dini maupun mencegah makin parahnya kerutan akibat proses penuaan. Terhadap munculnya kerutan dini akibat konsentrasi radikal bebas yang berlebihan dalam darah, ginkgo bisa mengatasinya lebih efektif. Zat flavonoidnya memiliki aktivitas sepiluh kali lipat lebih kuat dalam menyergap radikal bebas, dibandingkan yang ada dalam buah-bauhan, seperti jambu biji, anggur, apel, dan jeuk. Dengan demikian munculnya radikal bebas bisa dipastikan akan segera disapu bersih oleh ginkgo.

Jadi, diluar manfaatnya sebagai obat alami antilupa, ginkgo sesungguhnya dapat diharapkan peranannya sebagai senyawa semi antitua. Maksudnya ginkgo memang tidak betul-betul bisa diharapkan dapat menghentikan proses penuaan. Namun ia mampu menahannya dengan tenaga habis-habisan, sehingga kerut tua itu datang jauh lebih lambat.

Tags: , , ,

Leave a Reply