Optimis Menyambut Menopause

Setiap wanita tanpa kecuali akan mengalami menopause. Tapi anehnya, tak seorang pun mempersiapkan wanita untuk menghadapi menopause. Ketika masih balita, lalu beranjak remaja, menikah, melahirkan, bimbingan diberikan oleh para ahli, melalui buku penuntun, maupun tulisan di majalah. Tidak begitu dengan informasi mengenai menopause. Bahkan dokterpun banyak yang tidak mengerti mengenai menopause.

William Regelson, M.D., gurubesar Virginia Commonwealth University, Richmond, Amerika, berkisah dalam bukunya The Superhormone Promise: Nature’s Antidote to Aging (Janji Superhormon: cara alami mengatasi penuaan) saat ia masih seorang mahasiswa kedokteran. Pada waktu itu menopause hampir tidak dibahas di sekolah kedokteran. Kalaupun dibahas, menopause hanya dianggap sebagai peristiwa medis belaka. “ Pada kuliah mengenai “Klimakterium” (masa setelah akhir masa reproduksi) kami diberi tahu bahwa tanpa hormon estrogen, wanita kehilangan kapasitasnya untuk bereproduksi dan – oh ya – beberapa sistem organ tubuhnya mengalami kemunduran… Tak sepatah kata pun yang menyinggung kehidupan wanita setelah menopause.”

Tak heran jika banyak wanita yang tidak tahu bahwa keluhan umum seperti hot flushes atau gejala panas atau ketidak stabilan emosi lebih sering terjadi sebelum menopause, pada masa transisi yang disebut perimenopause. Bahwa terbangun pukul dua atau tiga pagi dengan rasa takut, dan sedih yang tidak jelas bukan berarti wanita sedang mengalami sakit jiwa. Karena jarang dibicarakan secara terbuka, begitu banyak salah faham, keputusasaan dan ketakutan yang sia-sia. Padahal, gejala menopause yang paling parah pun kini dapat diatasi. Mengapa tidak dicoba?

Keseimbangan hormon

Menopause (bahasa Yunani kuno, meno= bulan dan pause= berhenti) resminya dimulai setelah haid terakhir. Tapi kapan haid yang terakhir terjadi, baru bisa diketahui setelah seorang wanita tidak mengalami haid selama paling sedikit satu tahun. Karena itu sulit menentukan usia yang pasti. Bagi kebanyakan wanita, secara alami (soalnya ada menopause yang dipercepat karena operasi atau kelainan) menopause terjadi pada usia 45 sampai 55 tahun. Pengalamman menopause setiap wanita berbeda, sangat tergantung pada gaya hidup, kesehatan, pola makan dan sebagainya. Ada wanita-wanita yang mengalami gejala fisik dan emosi yang sangat menganggu kehidupannya. Ini biasanya terjadi pada wanita modern yang kehidupannya penuh tuntutan dan stres. Wanita jepang yang sehari-hari mengonsumsi susu kedelai, miso (kedelai yang diragikan) ternyata mengalami gejala menopause yang lebih ringan. Kedelai adalah salah satu bahan makanan yang mengandung estrogen alami atau phytoestrogen, sehingga gejolak perubahan akibat menopause tidak terlalu nyata. Tak disangkal lagi, wanita memang sangat dipengaruhi oleh keseimbangan hormon dalam tubuhnya. Hormon yang paling berpengaruh pada seksualitas wanita adalah estrogen dan progesteron. Estrogen terutama diproduksi oleh indung telur (ovarium) dan juga oleh beberapa kelenjar lain. Estrogenlah yang merangsang pertumbuhan payudara serta membulatkan pinggul wanita. Dan bersama progesteron, keduanya memainkan peran utama dalam siklus haid. Ituah sebabnya estrogen dan progesteron disebut sebagai hormon wanita.

Ketika telur mulai dimatangkan pada permulaan haid, estrogen pun mulai diproduksi dalam indung telur. Estrogen kemudian membuat dinding rahim (uterus) menjadi tebal. Saat kematangan telur mendekati puncaknya, progesteron diproduksi. Hormon inilah yang menjaga agar dinding rahim makin kaya darah dan tidak gugur. Ini untuk menjamin agar embrio yang terbentuk (jika terjadi pembuahan) bisa hidup terus dan suplai makanan yang disimpan pada dinding rahim. Jika pembuahan tidak terjadi, produksi progesteron akan dihentikan dengan sendirinya. Dinding uterus yang kaya darah itu dikeluarkan. Dan menstruasi pun terjadi.

Setelah usia 40 tahun

Apa yang terjadi setelah usia beranjak lanjut? Tanda-tanda berkurangnya jumlah telur mulai nampak pada 90% wanita pada masa perimenopause, yaitu masa transisi sebelum haid berhenti sama sekali. Itu sebabnya haid menjadi tidak menentu menjelang menopause, yaitu pada usia antara 45-55 tahun.setok telur telah menipis dan jumlahnya tidak cukup efektif untuk mrangsang produksi estrogen maupun progesteron yang cukup banyak. Ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gejala menopause yang bisa bersifak fisik maupun psikologis. Gejala menopause yang paling umum adalah hot flush atau gejala panas yang diderita oleh 74% wanita. Muka, leher, dan lengan, yaitu bagian atas badan terasa panas dan menjadi merah. Keringat keluar banyak sampai ada wanita yang perlu mengganti pakaiannya. Hot flush ini hanya berlangsung selama 1-5 menit, dan tidak membahayakan nyawa, tapi menguras tenaga dan membuat si penderita lemas tak bertenaga. Apalagi jika terjadi tengah malam saat tidur nyenyak – dan ini sering terjadi – hot flush akan menganggu kenyamanan hidup (hot flush juga bisa terjadi tanpa membuat kita terbangun). Ada wanita yang hanya mengalaminya 1 kali sehari, tapi yang parah bisa beberapa kali dalam satu jam.

Berkurangnya estrogen juga membuat lapisan vagina menipis, membuat wanita merasa sakit dan malas berhubungan intim dengan suaminya. Sulit tidur, sulit mengontrol kandung kemih (sering kencing tapi hanya sedikit yang keluar), migren, kulit keriput dan menipis, tekstur rambut menjadi tipis, pudar dan sulit diatur, pinggang melar, rasa ngilu dan sakit pada otot dan sendi yang menjadi kaku termasuk gejala-gejala menopause yang umum. Tidak semua gejala akan muncul, juga intensitasnya berbeda dari wanita ke wanita. Dan walaupun wanita akan mengalami ketidakstabilan emosi, sebagian besar akhirnya bisa mengatasi perubahan psikologis pada dirinya. Tapi gejala-gejala psikologis ini pasti ada. Dan yang paling umum adalah uring-uringan, suasana hati yang tidak menentu, khawatir, depresi, sedih dan murung, sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. Perimenopause ini bisa berlansung selama 1-5 tahun sebelum menopause dimulai. Setelah itu ejala-gejala ini akan berangsur berkurang, tapi ada kemungkinan timbul masalah lain yaitu osteoporosis (tulang rapuh), penyakit jantung, pelupa, linglung dan pikun.

Terapi hormon, ya atau tidak

Ada suatu masa para ahli medis berpendapat bahwa memang tak ada yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaan wanita dalam masa transisi menjelang menopause. Kau wanita sendiri sepertinya pasrah dan menganggap gejala-gejala yang kurang menyenangkan ini sebagai hal yang lumrah. Kini, keadaan ini sudah banyak berubah. Kita mempunyai pilihan untuk menanggulangisemua gejala negatif tadi. Salah satunya adalah terapi hormon. Mungkin Anda cenderung menolak begitu mendengar terapi hormon. Harus diakui bahwa terapi hormon masih controversial. Tapi dilain pihak terapi hormon ternyata mampu mengurangi gejala-gejala yang tidak diinginka secara nyata dan dalam waktu singkat. Belum lagi keuntungan lain seperti mencegah dan menyembuhkan osteoporosis, mengurangi kemungkinan serangan jantung, dan mencegah terjadinya kepikunan dan Alzheimer (penyakit pikun yang sangat parah, salah seorang penderita adalah Presiden Reagan). Keraguan timbul terutama karena terapi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rahim dan payudara. Karena itu ada baiknya ita melihat fakta-faktanya, sebelum seorang wanita mengambil keputusan yang akan mempengaruhi keshatan dan kualitas hidupnya untuk 20-30 tahun tahap akhir kehidupannya. Pada mulanya, terapi hormon yang diperkenalkan adalah Estrogen Replacement Therapy disingkat ERT. Tujuannya adalah untuk menormalkan kembali tingkat estrogen dalam tubuh. Ini diharapkan dapat melindungi wanita dari osteoporosis, penyakit jantung, mengurangi gejala menopause dan gejala kepikunan waktu itu proesteron dianggap kurang diperlukan. Tapi pemberian estrogen saja ternyata merangsang pertumbuhan dinding rahim secara abnormal (terjadi hyperplasia) yang bisa berkembang menjadi kanker rahim. Sebuah hasil penelitoan pada tahun 1975 memang menunjukkan bahwa pemakai estrogen mempunyai risiko kanker rahim lebih besar dari wanita yang tidak memakai estrogen. Kenyataan ini mendorong para ahli medis untuk meneliti kembali terjadinya siklus haid secara alami. Kesimpulannya, estrogen harus diimbangi oleh progesteron agar tidak berproduksi secara liar. Dengan meniru siklus haid yang alami, diharapkan wanita bisa terlindingi dari kanker rahim. Sekarang ini ERT hanya diberikan pada wanita yang telah mengalami operasi rahim (histerektomi). Sedangkan bagi wanita yang masih utuh rahimnya, estrogen harus diberikan dalam kombinasi dengan progesteron. Terapi ini disebut Hormon Replacement Therapy atau HRT. Cuma sayangnya wanita akan mengalami pendarahan seperti haid.

Kekisruhan soal terapi hormon juga karena pil yang diberikan pada HRT disamakan dengan pil KB. Hormon pada pil KB menggunakan hormon sintetis dan jumlahnya juga jauh lebih besar. Hormon untuk menopause adalah alami dan diberikan dalam jumlah minim. Istilah alami dan sintetis ini perlu sedikit penjelasan. Tidak berarti bahwa yang alami tidak mengalami proses kimiawi. Tapi, yang sintetis mempunyai struktur sel yang jauh berbeda dari struktur sel manusia. Sedangkan estrogen alami struktur selnya mirip struktur sel estrogen yang diproduksi tubuh manusia sehingga mudah diserap dan dibuang bila tidak diperlukan.

Demikian pula dengan progesteron sintetis yang disebut progestin. Karena struktur selnya yang berlainan, progesteron sintetis menimbulkan efek samping seperti badan menggembung (bloating), depresi, mudah marah, payudara sensitif. Sebaliknya progesteron alami tidak menimbulkan efek samping. Para ahli medis di Amerika mengabarkan bahwa denga HRT kepadatan tulang pasien mereka meningkat, hot flushes lebih terkontrol dan pada umumnya pasien mereka merasa lebih energetik dan cenderung tidak depresi. Meskipun semua ini menggembirakan wanita tetap perlu berhati-hati. Council of The British Menopause society mengemukakan kekhawatirannya karena belum adanya penelitian jangka panjang mengenai efek pemakaian progesteron. Memang banyak data yang mendukung fakta bahwa kekurangan estrogen menyebabakan terjadinya gejala menopause, osteoporosis dan sakit jantung pada wanita menopause. Penelitian ilmiah yang terkontrol juga memastikan manfaat hormon terapi dengan estrogen alami. Tapi, claim mengenai khasiat HRT dengan progesteron masih diragukan. Data yang ada sering tidak konsisten. Di antara para ahli pun masih terjadi silang pendapat. Para dokter Amerika tidak begitu percaya bahwa progesterone dapat mencegah terjadinya kanker payudara. Sebaliknya di Australia maupun beberapa Negara di Eropa dan Asia pemberian estrogen selalu dilakukan bersama progesterone untuk menekan angka kejadian kanker payudara.

Menopause dan terapi hormon mempunyai efek yang berbeda pada setiap orang. Karena itu setiap wanita perlu mempertimbangkan sendiri keuntungan kerugian memakai atau tidak memakai terapi hormon, adakah cara-cara alternatif yang bisa dipertimbangkan. Sering dikatakan bahwa menopause adalah gejala alami dalam kehidupan wanita. Tapi perlukah kita membiarkannya mengaharu-biru kehidupan kita?.

Tags: , , , ,

Leave a Reply