Dogon, Suku Terasing dengan Astronomi yang Lebih Maju dari Dunia Modern

img_0310Orang-orang suku Dogon di Mali, Afrika Barat, tinggal di desa-desa kecil yang berjarak beberapa kilometer dari peradaban Timbuktu dan dikenal sangat terasing. Meskipun terisolasi secara geografis dan budaya, suku terpencil ini memiliki pengetahuan astronomi sehingga, meskipun mereka sudah tidak ada, mereka mendahului pemahaman dunia Barat dalam bidang itu.

Ilmuwan Barat pertama yang melakukan kontak dengan suku Dogon adalah sepasang antropolog Perancis – Dr. Marcel Griale dan Dr. Germaine Dieterien. Mereka mengunjungi suku itu pada tahun 1931. Karena kagum pada apa yang mereka temukan di sana, mereka memutuskan untuk tinggal dan melakukan penelitian terhadap suku ini selama lebih kurang tiga puluh tahun. Selama kurun waktu itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal tradisi religius dan kebudayaan Dogon, dan akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaan mereka.

Penelitian terhadap suku Dogon yang terasing ini mengungkapkan bahwa suku ini memiliki beberapa informasi yang menakjubkan. Jauh sebelum Galileo melakukan penemuan-penemuan revolusionernya di Eropa, suku Dogon sudah memiliki pengetahuan tentang cincin Saturnus. Mereka juga mengetahui tentang keberadaan empat bulan besar dari Yupiter dan tahu bahwa Bumi adalah planet, dan bahwa semua planet berputar mengelilingi Matahari.

Suku ini juga memiliki pengetahuan yang luas tentang sistem bintang biner Sirius, yang belum diketahui dunia Barat hingga tahun 1862, ketika sistem bintang itu terlihat melalui teleskop paling canggih di dunia. Suku Dogon mengetahui bahwa Sirius sebenarnya terdiri dari dua bintang, yaitu Sirius A dan Sirius B, yang saling mengelilingi dalam siklus lima puluh tahunan. Akibatnya, pada sebagian besar siklus ini, hanya satu dari dua bintang itu yang terlihat.

Bagi suku Dogon, Sirius A – sebuah bintang terang yang biasa disebut Bintang Anjing – adalah bintang di langit yang paling penting bagi mereka, karena mereka percaya bahwa kehidupan itu berasal dari bintang tersebut. Sirius B – yang diketahui sebagai bintang yang 100,000 kali lebih terang dari bintang kembarannya, yang disebut sebagai bintang “Kurcaci Putih” – bagi suku Dogon dikenal sebagai bintang ke dua dalam sistem itu dan mereka menjelaskannya sebagai “bintang yang terberat”.

Gagasan-gagasan semacam itu relatif masih baru dalam astronomi modern, tetapi suku Dogon sudah mengetahui informasi ini jauh sebelum alat-alat seperti teleskop ditemukan. Misteri itu masih lebih dalam lagi ketika kita merenungkan penjelasan bagaimana suku itu mendapatkan pengetahuan astronomi-nya secara detail. Menurut legenda dalam suku Dogon, mereka diberi informasi oleh Nommo – sekelompok makhluk luar angkasa yang seperti dewa – yang berasal dari sistem bintang Sirius.

Legenda Dogon menceritakan bagaimana Nommo tiba dengan sejenis pesawat luar angkasa, disertai dengan api dan guntur. Para alien itu memiliki tampang yang menakutkan. Makhluk ini seperti ikan dan mirip dengan dewa-dewa amfibi dari agama-agama kuno seperti Isis dari Mesir dan Oannes dari Babilonia. Berdasarkan legenda suku ini, makhluk-makhluk ini mengeluarkan air dalam jumlah yang banyak ke Bumi.

Suku Dogon menyebut Sirius B sebagai “Bintang Nommo”, dan juga membicarakan tentang bintang mistik ke tiga, yaitu Sirius C, yang hingga saat ini masih belum dikenal oleh ilmu pengetahuan modern. Suku itu menyebutkan bintang ini sebagai “Bintang Para Wanita” dan meramalkan bahwa bintang itu akan muncul kembali di langit ketika Nommo bersedia menampakkan dirinya sekali lagi ke Bumi.

Oleh karena itu, suku Dogon memiliki penjelasan sendiri tentang bagaimana mereka mendapatkan pengetahuan yang luar biasa itu. Namun, bagaiman pendapat ahli di dunia tentang hal ini? Tiga teori pertama telah dikemukakan untuk menjelaskan tentang misteri itu, dan semuanya memiliki pendukung dan penentang masing-masing.

Pertama, dikatakan bahwa suku Dogon mungkin telah mempelajari tentang Sirius melalui suatu kontak dengan dunia luar – yang tidak didukung bukti dokumenter. Akan tetapi, argumen ini akan dimentahkan oleh kenyataan bahwa pengetahuan suku itu tentang Sirius telah tercatat pada sebuah prasasti, bertahun-tahun sebelum ilmu pengetahuan modern menyadari akan adanya sistem bintang.

Ke dua, ada kemungkinan bahwa salah satu dari peradaban besar kuno, seperti Mesir atau Persia, yang memang sudah memiliki pengetahuan astronomi ini,  telah memberi tahu seseorang dari suku Dogon (mungkin seorang pengembara dari suku itu). Akan tetapi, teori ini sepertinya mustahil, karena sifat orang Dogon yang suka menjalani kehidupan yang terisolir dari dunia sekitarnya.

Kemungkinan ke tiga adalah, bahwa seorang imam yang bijak atau paranormal telah menyampaikan informasi ini kepada suku itu, dan itu telah terjalin dalam mitologi Dogon. Akan tetapi, ini sama tidak masuk akalnya dengan penjelasan dari suku itu sendiri. Sepertinya, ini adalah catatan baru dari Dogon yang mau tidak mau harus diterima sebagai penjelasan yang benar. Bagaimanapun, orang-orang itu sudah terbukti benar dalam beberapa hal. Kenyataan bahwa isolasi dan kebodohan mereka terhadap teori-teori yang lebih luas dari dunia Barat sehubungan dengan alien itu telah lebih  mendukung penjelasan mereka. Bagaimana lagi mereka dapat memberikan penjelasan tentang sosok makhluk luar jika mereka tidak benar-benar melihat sendiri makhluk itu?

Misteri ini tetap belum terkuak, tetapi sepertinya suku yang tampak “primitif” seperti Dogon, pada kenyataannya jauh lebih maju dari pada yang kita perkirakan.

(Sumber : Greatest Mysteries of The Unexplained by Lucy Doncaster & Andrew Holland, copyright KARISMA Publishing Group, Tangerang – Indonesia, 2009)

Peluang Bisnis

Setelah mengisi form di bawah ini, anda akan menerima beberapa email berseri yang menjelaskan bisnis Oriflame bersama d'BC Network
Dari mana anda mendengar tentang website ini?
Kami menjaga kerahasiaan data anda
*for non Oriflame members only
©copyright d'BCN