Tes Keperawanan Menuai Kontroversi

tes-keperawananDunia pendidikan di Indonesia kembali dikejutkan dengan berita kontroversial. Anggota DPRD Jambi, Bambang Bayu Suseno, mengajukan usulan pribadi agar diadakan tes keperawanan bagi calon siswi dalam penerimaan siswa baru (PSB). Dalam hal ini, Bambang Bayu Suseno mengharapkan agar usulan pribadinya ini dapat di angkat ke tingkat nasional yang kemudian tertuang dalam bentuk undang-undang. Usulan ini tak urung menimbulkan banyak protes dari berbagai pihak.

Neng Dara Affiah yang merupakan Komisioner Komnas Perempuan menyatakan bahwa tes keperawanan merupakan perilaku barbar. Menurutnya tes keperawanan tidak ada urgensi apapun dalam dunia pendidikan. Hal ini juga merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan, mengingat hanya kaum perempuanlah yang secara fisik dapat terdeteksi keperawanannya. Tes keperawanan juga pada akhirnya tidak akan menghasilkan solusi apapun. Pendidikan seks dan reproduksi jauh lebih efektif jika maksud dibalik usul ini adalah untuk mengurangi kenakalan remaja.

Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, juga telah menyatakan ketidak setujuannya atas usulan ini. Tes keperawanan dikhawatirkan akan melanggar hak asasi dan privasi dari calon siswa. Tes keperawanan ini juga tidak mendapatkan dukungan dari Ketua DPRD Jambi, Effendi Hatta.

Bambang Bayu Suseno selaku pemberi usul menyatakan bahwa tes ini hanyalah tes psikologi dan bukan tes secara fisik. Siswi yang diketahui tidak perawan kemudian akan mendapatkan bimbingan konseling. Menurutnya, tes ini sudah biasa dilakukan di kalangan sekolah militer. Bambang pun mengusulkan agar tes ini dilakukan di sekolah menengah tingkat pertama.

Tes keperawanan pada dasarnya sama sekali tidak berhubungan dengan dunia pendidikan. Permasalahan yang kemudian dapat timbul justru pelanggaran hak asasi manusia. Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan terlepas dari status keperawanannya. Tes keperawanan juga bentuk dasar diskriminasi karena hanya dilakukan pada siswa perempuan. Tes keperawanan juga tidak memberikan solusi ketika yang dihadapi adalah calon siswa yang sebelumnya menjadi korban pelecehan ataupun perkosaan. Dunia pendidikan Indonesia harusnya lebih bijaksana dalam menyikapi hal-hal yang terkait agar dapat memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.