Permasalahan Pengemis di Jakarta

Pengemis.

Orang yang berpakaian lusuh, kotor, dan sering meminta-minta di jalanan. Setiap tahun, hari, bahkan jam mungkin jumlahnya selalu bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah, tidak hanya yang sudah ada di Jakarta tapi dari daerah-daerah di luar Jakarta. Mereka mengadu nasib di Jakarta dengan harapan akan mendapatkan hidup yang layak. Mungkin pikiran ini yang ada pada saat mereka mengadu nasib¬† ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, bukan kehidupan lebih baik yang di dapat tapi modal mereka ke Jakarta habis karena ‘jahat’nya Jakarta sehingga mereka terpaksa jadi pengemis.

Atau mungkin mereka memang ke Jakarta untuk jadi pengemis. Karena dalam pikiran mereka Jakarta adalah kota metropolitan, banyak orang-orang kaya yang akan senang hati memberikan sebagian hartanya untuk bersedekah.

Dan akhirnya karena kedua alasan tersebut di setiap sudut Jakarta pasti ditemui pengemis.

Entahlah karena peningkatan kemiskinan di negara kita atau alasan lain. Tapi pernah di satu koran Jakarta membahas bahwa Orang Kaya di Indonesia mengalami peningkatan jumlahnya. Jadi apa masalahnya? Sampai pengemis tetap banyak jumlahnya?

Hmm..

Dan hal yang paling menyedihkan adalah ternyata sebagian besar dari pengemis adalah pengemis yang terorganisir.

Seperti organisasi yang memperkejakan pengemis dan mengambil setoran dari tiap pengemis per hari nya.

Hmm.. Begitu complicatednya permasalahan pengemis. Karena sebab ini, akhirnya sebagian besar masyarakat memandang pengemis itu adalah orang yang pembohong dan orang yang tidak mau kerja keras. Dan apa akibatnya dari semua ini. Esensi dari bersedekah akhirnya bergeser. Mereka tidak mau memberikan sebagian uang mereka untuk pengemis yang datang ke mereka untuk meminta sedikit uang. Memandang mereka sebagai orang yang rendah, terkadang mungkin ada perasaan jijik jika ada pengemis yang datang.

Alasan mereka jika ditanyai,¬† “Kenapa tidak mau memberikan sedikit uangmu untuk pengemis itu?”

Jawaban mereka, “Ga ah, aku ga mau mengajarkan mereka untuk jadi orang yang pemalas..!”

Hanya memberikan Rp. 1000 pun mereka tidak mau memberikannya untuk seorang pengemis karena citra yang sudah ada pada pengemis itu. Kalau kita renungkan, masih lebih mudah untuk kita mendapatkan Rp. 1000 daripada pengemis.

Inilah yang membuat esensi dari sedekah bergeser.

Padahal pengemis adalah ladang pahala yang datang mendekati kita. Allah menjanjikan akan memberikan 10 kali lipat balasan setiap kebaikan. Tapi karena adanya citra ini. Sebagian orang menunda bahkan tidak melaksanakan amal yang mudah tersebut. Mereka bersih keras tidak memberikan uang kepada pengemis.

Si Kaya akan ada apabila ada Si Miskin.

Jadi tidak ada ruginya kita memberikan pengemis sedikit dari rejeki kita. Asalkan niat kita untuk ibadah, Allah akan mencatatnya sebagai ibadah dan memberikan balasannya 10 kali lipat. Walaupun kita memberikan pengemis yang berpura-pura jadi pengemis untuk mendapatkan uang.

Toh, cara yang dia ambil tidak akan mendapatkan balasan apapun dari Allah karena dia berbohong. Tapi kita mendapatkan 10 kali lipat balasan karena kita beramal. Jadi, kita lebih untung daripada pengemis itu.

Pengemis akan ditegur dengan cara-Nya.

Tapi sebagai seseorang masyarakat yang peduli dengan kelanjutan kehidupan bangsa ini. Kita juga tidak mau rangking kita sebagai negara miskin selalu yang teratas. Kita juga ga mau jika orang-orang yang menjadi pengemis selalu bertambah. Oleh sebab itu, hal ini memerlukan intregritas kita sebagai seorang masyarakat yang baik.

Masalah pengemis adalah masalah kita semua. Kita sebagai seseorang yang punya kelebihan dibanding mereka harus bisa menularkan kelebihan itu kepada mereka.

Perbaikan pendidikan mungkin adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah pengemis ini. Perbaikan pendidikan para pengemis adalah salah satu cara untuk merubah pola pikir para pengemis. Supaya mereka tidak berpikiran menjadi pengemis adalah satu-satunya jalan untuk menghidupi hidup. Karena masih banyak jalan yang lebih menantang dan menghasilkan lebih banyak penghasilan ketimbang jika mereka mengemis.

Sekolah gratis, Panti Jompo, Panti Asuhan, Panti Rehabilitasi, dan sebagainya. Jika dibangun dan dijalankan dengan integritas adalah salah satu cara untuk menekan angka pertumbuhan pengemis dan orang yang hidup miskin di Indonesia.

Ini merupakan sarana untuk memperbaiki pendidikan para pengemis dari pengemis yang masih anak-anak sampai pengemis yang sudah tua. Diharapkan di dalam sarana ini, mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan bisa merubah pola pikir mereka yang didapat saat mereka menjadi pengemis.

Tags: ,

Leave a Reply